
MOJOK.CO – Pengalaman Dewi Praswida bertemu, salaman, dan difoto bareng Paus Fransiskus itu jelas bikin iri. Terutama buat saya yang Katolik sejak orok ini.
Bangsa ini memang
bangsa yang aneh ya, Dewi Praswida?
Ada cukup banyak orang
yang fobia terhadap perjumpaan. Bertemu, salaman, dan difoto bareng Paus
Fransiskus saja dirimu sebegitunya dirisak ya, Wi? Bahkan dibenci, sebagaimana
curhatanmu di Mojok itu.
Tapi tenang. Sungguh,
betapa dirimu sungguh sangat berbahagia, ya kan? Ada dua alasan, Wi, dirimu
saya sebut “Yang Berbahagia”.
Pertama, bertemu
Paus—mau Paus Fransiskus atau Paus siapa pun itu—adalah kerinduan terbesar
semua umat Katolik di dunia. Saya dan tak terhitung umat Katolik di Indonesia,
tentu iri padamu.
Kami Katolik sejak
lahir, tapi bahkan sampai (nanti) mati pun, belum tentu bisa bertemu Paus.
Apalagi Paus Fransiskus itu, Wi. Paus Fransiskus adalah salah satu Paus paling
fenomenal sepanjang sejarah Gereja. Bahkan bagi saya pribadi, Paus Fransiskus
itu Paus progresif.
Kerinduan kami bertemu
Paus Fransiskus, bukan pertama-tama karena beliau Paus—pemimpin tertinggi kami
yang juga manusia biasa itu—tapi lebih karena lewat beliau, kami melihat wajah
dan keberanian Yesus sendiri.
Sangat berpihak pada
orang lemah dan kecil, yang berani melakukan auto-kritik: “Lebih baik menjadi
seorang ateis atau tak beragama daripada menjadi penganut Katolik tapi bermuka
dua,” atau, “Saya akan mengulangi apa yang Katekismus Gereja katakan, bahwa
mereka (kaum homoseksual) tidak boleh didiskriminasi, mereka harus dihormati,
dan didampingi secara pastoral.”
Paus Fransiskus begitu
menghormati kaum gay dan lantang membuka praktik kekerasan seksual yang
dilakukan para pemimpin Gereja lainnya.
Wi, betapa
beruntungnya dirimu bisa bertemu beliau.
Kedua, dihubungi Mojok
untuk menulis pengalamanmu itu. Bahagia benar dirimu, Wi.
Saya saja, empat tahun
tak pernah lolos di Mojok. Baru 2019 ini berhasil merayu para Redaktur Mojok
terketat sepanjang sejarah media online Indonesia, padahal medianya kelihatan
selo banget gitu. Sungguh dirimu menginspirasi teman-teman saya yang ingin
tulisannya nongol di Mojok, tapi ditolak terus.
Saya jadinya punya
motivasi baru buat mereka. “Bertemu dan berdialoglah dengan para pemimpin agama
dunia, dan jadilah viral,” niscaya akan dihubungi Redaktur Mojok. Hehe.
Berhubung perjumpaanmu
itu dapat dibaca dalam bingkai “Dialog Interreligius” dan saya kira untuk
itulah dirimu akan gencar melakukan kampanye, maka baiklah saya sodorkan juga
pengalaman dialog saya.
Saat masih kuliah,
saya pernah berlibur di tiga tempat berbeda di Flores. Yah, semacam KKN, meski
kampus saya, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere, Flores
itu, tidak punya program bernama KaKaEn.
Pertama, di Riung,
Ngada Utara, Flores Tengah. Waktu itu, saya tinggal bersama sebuah keluarga
Katolik. Namun, tetangga kami—yang rumahnya kebagian giliran Doa
Rosario—ternyata memiliki anggota keluarga yang sangat plural. Kedua orang tua
beragama Katolik, salah satu anak dan keluarganya Muslim, serta satu lagi dan
keluarganya Protestan.
Saya tanya pada si
Opa, mengapa demikian. Beliau jawab, “Yah, tujuan kita satu dan sama, hanya
beda cara dan jalan. Opa dan Oma tidak pernah mengatur-atur urusan iman
anak-anak.” Hm, dialogi nan mulia sekali. Riung itu daerah pantai, umat Muslim
terbilang banyak.
Kedua, di Waelengga,
Manggarai Timur, Flores. Saat itu, saya tinggal dekat gereja bersama sebuah
keluarga sederhana, Katolik. Suatu senja, sehari sebelum tinggalkan daerah itu,
si Om tuan rumah tiba-tiba menyebut bahwa Imam Masjid di daerah mereka itu,
adalah keluarganya. Saya senang.
Esoknya, kami pergi
mengunjungi imam tersebut. Saya dibikinkan kopi, dan banyak mendengar cerita
tentang umat muslim yang hidup damai di tengah mayoritas Katolik di daerah itu.
Ketiga, di Sagu,
Adorana, Flores Timur. Saya tinggal bersama keluarga Katolik. Beberapa tetangga
kami, muslim. Jarak musala dan kapela tak terlalu jauh. Saat kapela direnovasi,
masyarakat Sagu ramai-ramai membantu. Begitu pula saat musala diperbaiki. Tak
peduli apa pun agamanya, semua hidup sebagai saudara.
Saat ibadah, umat
muslim yang tak sibuk, ikut hadir. Saya agak kikuk, awalnya. Tapi, kekikukan
itu segera dicairkan oleh sesepu yang Katolik, “Santai saja, kami sudah biasa
begini. Saat Natal atau Paskah, keluarga kami yang Muslim memasak buat kami
yang lagi di gereja, begitu pula sebaliknya!” Dan benar, semua lancar dan
aman-aman saja.
Pernah juga saya
sekamar sama kawan muslim, Ahmad Muzakky namanya, saat berkegiatan di Lombok,
NTB. Kami tidur-makan-mandi-berak-berkegiatan di Asrama Haji.
Begitu. Bicara
perjumpaan, Dewi tidak sendirian. Hanya, beda orang dan tempat. Dewi berjumpa
Paus Fransiskus di Roma, saya berjumpa saudara-saudara dari keluarga sederhana
beda agama di kampung-kampung di Flores.
So, santai saja, Wi.
Di tengah geliat fobia itu, kita memang perlu untuk makin selo. Soal sesat atau
tidak itu urusan lain. Ucapkan atau tidak selamat Natal, itu mah terserah.
Yesus, saya kira, tidak pernah memaksa, apalagi mengenai hal-hal yang
berhubungan langsung ke diri-Nya. Apalagi ini, cuma ucapan habede yang
diucapkan tiap tahun itu.
Tenang, Wi, tak usah
takut. We stand with you. You’ll never walk alone. Eh.
0 Komentar