
Banyak orang beranggapan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah dan tidak bisa menjadi pemimpin. Padahal, tak sedikit wanita yang memiliki segudang prestasi dan layak untuk menjadi pemimpin. Bahkan ternyata dalam sejarah Islam, wanita pun banyak yang menjadi panutan dan tampil di publik loh! Berikut ini beberapa wanita yang berprestasi dalam pemerintahan sejarah Islam dikutip dari Muslim Heritage pada Senin (24/06/2019)
1. Sitt al-Mulk
Dalam peradaban
Muslim, tidak ada wanita yang memegang kekuasaan dengan gelar khalifah atau
imam. Khalifah telah menjadi gelar yang khusus disediakan untuk sebagian kecil
pria. Namun, meskipun tidak ada wanita yang pernah menjadi khalifah, ternyata
ada wanita yang menjadi Sultana dan Malikas (ratu). Sitt al-Mulk, Puteri
Fatimiyah di Mesir, adalah salah satunya. Cerdas dan teliti dengan tidak
melanggar aturan dan persyaratan apa pun yang mengatur politik Islam, Ia
menjalankan hampir semua tugas khalifah. Ia mengatur segala urusan kekaisaran
dengan efektif sebagai Bupati selama dua tahun (1021-1023) dan mendapatkan
gelar 'Naib as-Sultan' (Wakil Sultan).
Sitt al-Mulk adalah
kakak perempuan Khalifah Al-Hakim. Setelah kematian ayahnya, Al-Aziz, Ia
memaksa Al-Hakim agar turun dari jabatannya dan akhirnya Sitt al-Mulk menjadi
Bupati untuk dan penerus Al-Zahir. Ia menghapuskan banyak aturan aneh yang
Al-Hakim terapkan pada masa pemerintahannya. Ia juga mengurangi ketegangan
Kekaisaran Bizantium atas kendali Aleppo. Tetapi sebelum negosiasi selesai, Ia
meninggal pada 5 Februari 1023 pada usia 52.
2. Shajarat al-Durr
Ratu lain yang
menyandang gelar Sultana adalah Shajarat al-Durr. Ia mendapat kekuasaannya di
Kairo pada 1250 Masehi. Bahkan, Ia membawa kemenangan bagi kaum Muslim selama
Perang Salib dan menangkap Raja Prancis, Louis IX.
Shajarat al-Durr (yang
namanya berarti dalam bahasa Arab ‘untaian mutiara'), memiliki nama kerajaan
al-Malikah Ismat ad-Din Umm-Khalil Shajarat al-Durr. Ia menjadi Sultana Mesir
pada 2 Mei 1250, yang menandai berakhirnya pemerintahan Ayyubiyah dan
dimulainya era Mamluk. Ia adalah seorang janda dari Sultan Ayyubiyah as-Salih
Ayyub yang berperan penting setelah kematiannya selama Perang Salib Ketujuh
melawan Mesir (1249-1250). Dalam perjalanan hidup dan karier politiknya,
Shajarat al-Durr, memainkan banyak peran dan berpengaruh besar dalam sistem
pemerintahannya. Ia adalah seorang pemimpin militer, seorang ibu, sekaligus
seorang sultana yang sukses besar hingga kekuasaannya jatuh pada tahun 1257.
Shajarat al-Durr meninggal di Kairo pada tahun 1257.
3. Sultana Raziya
Di ujung lain dunia
Muslim dan hampir bersamaan dengan Shajarat al-Durr, seorang wanita lain juga
memegang kekuasaan, tetapi kali ini di India. Razia (atau Raziyya) Sultana dari
Delhi mengambil alih kekuasaan di Delhi selama empat tahun (1236-1240 M). Ia
adalah satu-satunya wanita yang pernah duduk di atas takhta Delhi. Nenek moyang
Razia adalah Muslim keturunan Turki yang datang ke India pada abad ke-11.
Ayahnya lebih memilihnya, daripada saudara laki-lakinya, untuk menjadi
penggantinya. Setelah kematian ayahnya, Razia dibujuk untuk turun dari tahta
demi saudara tirinya Ruknuddin. Tetapi, Ia menentangnya dan orang-orang pun
meminta Razia agar menjadi Sultana pada tahun 1236.
4. Amina dari Zaria
Di Afrika, beberapa
Muslim perempuan unggul di berbagai bidang. Salah satunya adalah Ratu Amina
dari Zaria. Ia adalah putri tertua Bakwa Turunku yang mendirikan Kerajaan
Zazzau pada 1536. Amina berkuasa antara 1588 dan 1589. Amina pada umumnya
dikenal karena eksploitasi militernya yang sengit. Ia memiliki kualitas khusus
untuk strategi militernya yang brilian, khususnya keterampilan teknik dalam
mendirikan kamp-kamp yang bertembok kuat.
Amina dari Zaria, Ratu
Zazzua, provinsi Nigeria yang sekarang dikenal sebagai Zaria, lahir sekitar
tahun 1533 pada masa pemerintahan Sarkin (raja) Zazzau Nohir. Zazzua adalah
salah satu dari sejumlah negara kota Hausa yang mendominasi perdagangan
trans-Sahara setelah runtuhnya kekaisaran Songhai ke barat. Kekayaannya
dikarenakan perdagangannya terutama barang-barang kulit, kain, kola, garam,
kuda, dan logam impor. Ratu Bakwa wafat sekitar tahun 1566 dan pemerintahan
Zazzua diserahkan kepada adiknya, Karama.
Pada saat pemerintahan
Karama, Amina muncul sebagai prajurit kavaleri Zazzua yang terkemuka. Prestasi
militernya membawa kekayaan dan kekuatan yang besar. Karena prestasinya itulah,
ketika Karama meninggal, Amina menjadi ratu Zazzua.Ia mempopulerkan benteng
tembok kota tanah yang menjadi karakteristik negara-kota Hausa sejak saat itu.
Ia memerintahkan pembangunan tembok pertahanan di setiap kamp militer yang Ia
dirikan. Beberapa kota yang tumbuh di dalam tembok pelindung dikenal sebagai
"ganuwar Amina" atau dinding Amina.
5. Wanita Ottoman
Di bidang investigasi,
wanita Ottoman mulai menarik perhatian para sarjana. Pada abad ke-16 dan 17,
Harem memainkan peran penting dalam pemerintahan Kekaisaran Ottoman. Berbeda
dengan persepsi umum, Harem adalah pusat administrasi pemerintahan yang dijalankan
oleh perempuan saja.
6. Miscellanea
(kumpulan karangan)
Selain spesialisasi
dan peran sosial yang disebutkan di atas, banyak sumber-sumber sejarah mengutip
yang nama Maryam Al-Zinyani. Beberapa sarjana mengatakan bahwa Maryam
Al-Zinyani adalah Maryam binti Abdullah al-Hawary yang meninggal pada tahun 758
M di Kairouan. Selain menulis puisi, Maryam juga terampil dalam bidang kimia.
Sebagai kesimpulan,
selain lelaki, wanita Muslim juga berpartisipasi dalam membangun budaya dan
peradaban Islam yang unggul dalam puisi, sastra, dan seni. Selain itu, wanita
Muslim juga telah menunjukkan kontribusi nyata dalam matematika, astronomi,
kedokteran dan dalam profesi perawatan kesehatan.
Namun, hanya sedikit
studi yang membahas tentang peran wanita Muslim dalam kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi dan kedokteran. Ada sekitar 5 juta manuskrip arsip di
seluruh dunia, tetapi hanya sekitar 50.000 di antaranya yang diedit naskahnya.
Mengedit naskah yang relevan memang merupakan salah satu cara untuk menemukan
peran perempuan Muslim dalam sains dan peradaban.
Sumber: https://muslim.okezone.com/read/2019/06/24/614/2070183/inilah-ratu-muslim-di-dunia-pada-sejarah-islam?page=7
0 Komentar